MEDIAACEH.CO, Gayo Lues – Ketua Pimpinan Cabang (PC) Gerakan Pemuda (GP) Ansor Gayo Lues, Dharmika Yoga, menekankan urgensi menjaga kerukunan antarumat beragama di Aceh, terutama setelah musibah banjir bandang yang melanda sejumlah wilayah pada 26 November 2025. Ia mengingatkan agar penyaluran bantuan kemanusiaan tidak disusupi kepentingan tersembunyi yang dapat mengganggu keharmonisan dan tatanan sosial masyarakat
Menurut Gus Yoga, masyarakat Aceh, termasuk di wilayah Gayo Lues, saat ini masih dalam tahap pemulihan, baik secara fisik maupun psikologis. Dalam situasi seperti ini, semua pihak seharusnya mengedepankan empati, solidaritas, dan kemanusiaan tanpa embel-embel kepentingan ideologis.
“Pasca bencana, masyarakat kita sedang rapuh. Mereka butuh uluran tangan, bukan narasi yang memecah belah. Kami mengingatkan, jangan sampai ada oknum yang memanfaatkan situasi duka ini untuk menjalankan misi tertentu yang dapat mengganggu kerukunan umat beragama,” ujarnya, Senin 19 Januari 2026.
Ia menegaskan bahwa Aceh merupakan daerah yang memiliki kekhususan dalam menjalankan Syariat Islam, namun tetap menjunjung tinggi nilai toleransi dan kehidupan damai antarumat beragama. Prinsip ini, menurutnya, harus dijaga bersama.
“Aceh adalah negeri bersyariat, tapi juga negeri yang ramah. Sejak dulu, masyarakat Aceh hidup berdampingan secara damai dengan pemeluk agama lain. Jangan sampai nilai luhur ini dirusak oleh praktik-praktik yang tidak bertanggung jawab,” katanya.
Yoga juga mengajak seluruh elemen masyarakat, terutama pemuda, untuk memperkuat literasi sosial dan keagamaan agar tidak mudah terprovokasi oleh isu-isu sensitif. Ia menilai, hoaks dan narasi provokatif justru sering muncul di saat masyarakat sedang lemah secara emosional akibat musibah.
Sementara itu, Sekretaris PW GP Ansor Aceh, Ruslan, yang akrab disapa Cak Lan, menekankan bahwa kerja-kerja kemanusiaan harus berlandaskan pada nilai keikhlasan, kemanusiaan universal, dan semangat persaudaraan.
“Dalam Islam, menolong orang yang tertimpa musibah adalah kewajiban moral. Itu tidak boleh dicampur dengan agenda lain. Kalau bantuan sudah diberi embel-embel kepentingan tertentu, maka ia kehilangan nilai kemanusiaannya,” ujar Cak Lan.
Ia menambahkan bahwa GP Ansor dan Banser di Aceh selama ini aktif dalam berbagai aksi kemanusiaan, termasuk saat banjir bandang melanda beberapa daerah. Prinsip yang selalu dipegang adalah melayani tanpa membedakan latar belakang.
“Kami turun bukan untuk mengubah keyakinan orang, tapi untuk menyelamatkan nyawa, menguatkan yang lemah, dan membantu pemulihan. Ini adalah ajaran Islam yang sesungguhnya,” tegasnya.
Cak Lan juga mengajak seluruh organisasi kemasyarakatan dan keagamaan untuk memperkuat koordinasi dengan pemerintah daerah dan tokoh agama setempat agar distribusi bantuan lebih terarah dan tidak menimbulkan kesalahpahaman di tengah masyarakat.
“Dialog itu penting. Kalau ada kecurigaan, jangan disimpan. Bicarakan. Kita selesaikan dengan cara bermartabat. Aceh sudah terlalu sering diuji dengan bencana, jangan ditambah dengan konflik sosial,” katanya
Baik Gus Yoga maupun Cak Lan sepakat bahwa pascabencana seharusnya menjadi momentum untuk memperkuat persaudaraan, bukan sebaliknya. Mereka berharap semua pihak dapat menghormati kearifan lokal Aceh serta menjunjung tinggi nilai-nilai kebersamaan.
“Bencana adalah ujian, tapi juga kesempatan untuk menunjukkan siapa kita sebenarnya. Apakah kita memilih menjadi pemecah atau penyambung persaudaraan,” pungkasnya.












Discussion about this post