MEDIAACEH.CO, Aceh Tamiang – Bencana banjir besar yang melanda Kabupaten Aceh Tamiang sejak Kamis, 27 November 2025, telah menimbulkan penderitaan berkepanjangan bagi ratusan ribu warga. Hingga hari keenam, Selasa 2 Desember 2025, kondisi masyarakat di daerah tersebut masih sangat memprihatinkan. Tidak hanya warga setempat, para musafir yang melintas menuju Medan pun terpaksa tertahan akibat banjir dan terputusnya akses jalan.
Syukurdi, Warga Aceh Tamiang mengatakan, sejumlah kendaraan pribadi dan bus antarprovinsi mengalami kerusakan berat akibat rendaman air. Kendaraan-kendaraan itu kini terparkir di badan jalan, menunggu kondisi membaik agar bisa melanjutkan perjalanan.
Sementara penduduk lokal terpaksa mengungsi ke bangunan bertingkat seperti masjid, sekolah, gedung perkantoran, gelanggang olahraga, hingga lantai dua ruko—yang sebagian besar dimiliki warga etnis Tionghoa. Sedikitnya 50 titik pengungsian telah terbentuk secara spontan oleh warga.
Meski air telah mulai surut, permukiman warga masih tertutup lumpur tebal, kayu gelondongan, dan sampah yang hanyut dari hulu sungai. Kondisi ini membuat sebagian besar pengungsi belum dapat kembali ke rumah masing-masing.
Dampak terbesar dari bencana ini adalah putusnya aliran listrik, hilangnya sinyal handphone, dan matinya layanan internet yang telah berlangsung selama enam hari. Malam hari menjadi gelap gulita dan mencekam, sementara jalur komunikasi warga dengan sanak keluarga, termasuk koordinasi pemerintah, benar-benar lumpuh.
Situasi ini juga memperburuk kondisi para musafir yang terjebak di wilayah Aceh Tamiang. Banyak dari mereka kehilangan kontak dengan keluarga, menambah rasa cemas dan kekhawatiran yang mendalam bagi keluarga mereka di daerah asal.
Hingga hari keempat, banyak warga di sejumlah titik pengungsian yang belum menerima bantuan makanan, air minum, atau pakaian layak. Pemerintah kabupaten telah berupaya menyalurkan bantuan, namun jumlah yang tersedia tidak mampu memenuhi kebutuhan warga.
Bantuan dari luar daerah sulit masuk karena Aceh Tamiang terisolir total. Satu-satunya jalur yang memungkinkan adalah jalur udara, namun belum optimal digunakan. Kekurangan pangan mengancam kelompok rentan seperti anak-anak dan balita, sementara warga bertahan hidup dengan mengumpulkan sisa-sisa bahan makanan yang ditemukan.
Bencana banjir juga melumpuhkan hampir seluruh fasilitas kesehatan di Aceh Tamiang. Rumah sakit, puskesmas, gudang farmasi, klinik swasta, apotek, hingga ambulans ikut terdampak banjir. Para tenaga medis pun sebagian besar ikut menjadi korban karena rumah mereka juga terendam.
Akibatnya, warga yang jatuh sakit tidak memperoleh layanan medis yang memadai, bahkan sebagian tidak tertangani sama sekali. Kelangkaan obat-obatan dan sulitnya akses menuju pasien membuat situasi kesehatan semakin kritis.
Hingga hari keenam bencana, Aceh Tamiang belum dapat diakses melalui jalur darat. Akses dari arah Medan terputus akibat banjir di Km 54 Tol Berandan, Tanjung Pura, Berandan, dan Besitang. Setelah air mulai surut di wilayah Sumatera Utara, jalur menuju Aceh Tamiang tetap tidak dapat dilalui karena dua titik longsor di Seumadam dan Alur Gantung, serta beberapa titik yang masih tergenang air termasuk di depan Makodim.
Dari arah Bireuen, jembatan Kuta Blang terputus. Jalur dari Lhokseumawe juga tidak dapat ditembus karena sebagian wilayah Aceh Utara dan Aceh Timur masih terendam banjir.












Discussion about this post