MEDIAACEH.CO, Aceh Utara – Bencana banjir besar yang melanda Kabupaten Aceh Utara sejak lima hari terakhir menyebabkan kerusakan parah dan melumpuhkan aktivitas warga di hampir seluruh wilayah. Berdasarkan laporan resmi Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Aceh Utara hingga Minggu 30 November 2025 pukul 18.00 WIB, sebanyak 119.830 jiwa terdampak banjir dengan 41.135 kepala keluarga, sementara 107.305 jiwa di antaranya mengungsi ke 221 titik pengungsian yang tersebar di berbagai kecamatan.
Juru Bicara Pemerintah Aceh Utara, Muntasir Ramli, dalam keterangannya menyebutkan, banjir disebabkan oleh kedangkalan sungai, cuaca ekstrem, serta curah hujan tinggi selama lima hari berturut-turut. Selain itu, jebolnya tebing sungai Krueng Pase di Kecamatan Samudera dan Nibong, serta meluapnya Krueng Peutou di Lhoksukon, Krueng Langkahan, Krueng Keureuto, Krueng Ajo, Krueng Nisam, Krueng Jambo Aye, dan Krueng Sawang, turut memperparah kondisi banjir.
“Kondisi di lapangan sangat sulit. Jaringan listrik dan komunikasi di wilayah Aceh Utara blackout total, termasuk internet dan layanan panggilan. Hal ini sangat menghambat komunikasi warga, pelaporan keadaan darurat, koordinasi evakuasi, dan permintaan bantuan logistik,” ujar Muntasir.
Meskipun akses jalan lintas nasional mulai membaik, sejumlah titik seperti Simpang Peurepok, Matang Kumbang Baktiya, dan Singgah Mata Baktiya Barat masih tergenang air setinggi 30 sentimeter, dan hanya dapat dilalui kendaraan bak tinggi. Bantuan logistik masa panik telah mulai disalurkan ke kantor kecamatan untuk didistribusikan ke 221 titik pengungsian.
Bupati Aceh Utara, H. Ismail A. Jalil, MM (Ayah Wa), telah menetapkan status tanggap darurat bencana banjir pada Selasa (25/11/2025) di Lhoksukon. Berdasarkan data sementara, sebanyak 78 orang meninggal dunia dan 51 orang dilaporkan hilang.
Selain itu, kerusakan infrastruktur juga cukup luas, meliputi 32.447 rumah terendam, 3.970 rusak berat, 12.685 rusak sedang, dan 15.890 rusak ringan. Sementara itu, 12.782 hektare sawah dan 10.653 hektare tambak ikut terendam banjir. Tanggul di 57 titik, 27 jembatan, serta 101 unit sekolah juga dilaporkan rusak.
BPBD Aceh Utara mencatat sejumlah pengungsi prioritas yang memerlukan penanganan khusus, terdiri dari 71 ibu hamil, 573 balita, 582 lansia, dan 12 penyandang disabilitas.
Adapun kebutuhan mendesak saat ini mencakup bantuan logistik masa panik, alat transportasi air untuk menjangkau daerah terisolir, pemulihan jaringan listrik dan komunikasi, pasokan air bersih dan gas elpiji, serta alat berat untuk normalisasi sungai dan tanggul.
Sejumlah kecamatan yang hingga kini masih terisolir akibat genangan air dan rusaknya akses jalan antara lain Langkahan, Seunuddon, Baktiya, Baktiya Barat, Pirak Timur, Lapang, Samudera, Tanah Pasir, dan Sawang.
“Hampir 90 persen wilayah Aceh Utara yang terdiri dari 27 kecamatan dan 852 desa terdampak banjir. Pendataan masih terus dilakukan dan dapat berubah sewaktu-waktu karena keterbatasan akses akibat blackout komunikasi di seluruh wilayah,” tutup Muntasir Ramli.












Discussion about this post