AKU menarik nafas panjang. Antara mau atau tidak untuk mengangkat telepon Rani.
Aku takut jika mengangkat telepon Rani, maka akan kembali mengulang kisah lama yang selama ini telah kubuang jauh-jauh.
"Angkatlah. Jangan kecewakan aku hari ini," ujar Papi lagi. Sedangkan aku terdiam.
"Halo," kataku akhirnya usai menerima telepon Rani.
Namun di ujung telepon sana tak ada jawaban. Suasana terdengar sepi. Papi dan Hamdani mulai menjauh dari lokasiku berdiri. Mereka seperti memberi ruang bagiku agar bisa berbicara bebas dengan Rani melalui handphone.
"Halo Rani," ujarku lagi. Namun lagi lagi di seberang sana tak terdengar jawaban. Sedangkan telepon masih tersambung.
Suasana sepi.
"Assalamualaikum, Mas," tiba tiba terdengar suara di seberang sana. Suaranya terdengar lembut dan merdu.
Jantungku tiba tiba berdetak cepat. Leherku seolah tercekit. Aku susah untuk membalas salamnya.
"Wa..waalaikumsalam," jawabku akhirnya tergagap.
Rani kemudian kembali terdiam. Suasana kembali sepi.
"Apa Mas baik-baik saja selama ini? Aku senang Mas bisa menerima telepon dariku," ujar Rani lagi.
"Ya aku baik-baik saja. Kondisi terbaik tidak, tapi aku masih hidup. Itu yang penting," kataku kemudian.
"Adikku meninggal dalam perlawanan. Ayahku diculik dan jasadnya belum ditemukan hingga kini," ujarku lagi.
Rani terdiam. Dia sepertinya terkejut mendengar penjelasanku.
"Aku turut menyesal dengan apa yang terjadi Mas. Aku berharap Mas bisa bersabar," ujarnya.
"Ya tak apa-apa. Aku juga sudah ikhlas. Kalau kamu, bagaimana kabarnya selama ini?" ujarku kemudian.
"Kalau saya juga baik-baik saja Mas. Yang penting saya masih hidup. Seperti kata Mas tadi, ada banyak hal dalam hidup ini yang tidak sesuai dengan keinginan kita. Namun kita harus tetap bisa menjalaninya," ujar Rani.
"Ya. Inilah hidup. Kita harus bisa menerimanya," kataku.
"Apa kau sudah selesai pendidikan? Sudah menikah?" ujarku lagi.
Rani terdiam. Aku sendiri merasa menyesal menanyakan hal tersebut. Namun kata-kata itu meluncur dengan sendirinya.
"Aku sudah selesai Mas. Saat ini berkerja di salah satu perusahaan keluarga. Kalau menikah belum. Aku ingin menunggu Mas, tapi…," kata Rani dengan kalimat mengantung.
"Tapi kenapa?" ujarku kemudian. Aku menjadi penasaran dengan jawaban Rani.
"Orangtuaku menjodohkan aku dengan kerabat kami. Dia masih keluarga keraton Yogya," ujarnya lesu.
Aku terdiam dengan penjelasan Rani. Ada rasa sedikit cemburu, namun aku buang rasa itu jauh jauh.
"Syukurlah kalau begitu. Aku berharap kamu bisa bahagia dengan pilihan orang tuamu," kataku kemudian.
"Apa Mas tidak cemburu sedikitpun? Apa Mas tidak memiliki rasa sedikitpun terhadapku?" ujar Rani.
"Apa Mas sudah punya pacar atau istri di Aceh," kata Rani lagi.
"Tidak. Aku belum punya calon istri. Kamu sudah tahu posisiku kan? Aku ingin fokus dalam perjuangan yang sedang kami rintis. Mungkin susah bagi kalian untuk memahami jalan hidup yang aku tempuh saat ini. Namun aku minta kamu untuk tidak menghalanginya," ujarku kemudian.
"Ya. Aku bisa memahami Mas. Aku sadar diri. Dulu aku tak bisa menghalangi niatmu saat di Yogya. Apalagi sekarang ketika kita sudah jauh," kata Rani.
"Aku cuma berharap Mas baik baik saja. Aku akan sangat senang jika Mas bisa membalas pesanku. Bagiku saat ini, mendengar suara Mas serta mengetahui Mas masih hidup, sudah lebih dari cukup," ujar Rani lagi.
"Ya. Tapi aku tak bisa berjanji. Aku cuma berharap kau bisa meneruskan hidup tanpaku. Aku juga tak ingin kau menutup diri," kataku.
"Aku pikir, alangkah lebih baik kalau kita tak sering sering berkomunikasi. Aku takut komunikasi kita mengganggu hidupmu dan hidupku. Aku akan mengakhiri telepon, tapi kau masih bisa mengirimku pesan," ujarku lagi sambil memutuskan sambungan.
Aku takut komunikasi dengan Rani membuatku lemah dan akhirnya lupa dengan perjuangan. [Bersambung]
Cerita bersambung ini karya Musa AM








Discussion about this post