“Begini Pakwa. Coba bertemu dulu dengan Ayah Saridin. Nanti kau bisa lihat sendiri bagaimana kehidupannya kini. Bagaimana kehidupannya selama di Malaysia,” ujar Alfian.
“Kehidupannya benar-benar memprihatinkan,” kata Alfian lagi.
Aku terdiam. Aku tak mengetahui apa yang membuat Alfian ingin sekali mempertemukanku dengan Ayah Saridin.
Aku sebenarnya juga kangen dengan sosok itu. Ayah Saridin termasuk akrab denganku saat kami sama-sama di kantor wilayah. Sosok itu sangat baik. Namun keputusannya untuk keluar Aceh saat konflik sedang memanas telah melukai hati pimpinan di Aceh.
“Aku tak berani melangkahi keputusan panglima. Aku tak berani bertemu dengannya tanpa seizing Bang Yan,” kataku.
“Begini saja. Tolong berikan aku nomor handphone Bang Yan. Biar aku telepon Bang Yan,” ujar Alfian.
Aku kemudian menuruti permintaan Alfian. Aku memberikannya nomor handphone Sofyan Dawood. Sosok itu kemudian menelpon Bang Yan. Saat telepon tersambung, Alfian menjauh dari tempat kami duduk.
Pada saat bersamaan, pelayan tadi datang dengan membawa dua gelas kopi Aceh. “Neurasa na sama dengoe kupi di Aceh,” ujar pelayan tadi sambil tersenyum. Aku hanya mengangguk.
Aku kemudian kembali beralih pandang ke arah Alfian. Sosok itu beberapa kali terlihat mengangguk.
“Jeut Bang Yan. Jeut,” ujarnya.
Alfian kemudian kembali menyerahkan handphone kepadaku. “Bang Yan ingin berbicara langsung denganmu,” ujarnya pelan.
Aku meraih handphone dan meletakan di dekat telinga. “Ya. Bang Yan. Siap terima perintah,” ujarku.
“Begini Musa. Aku izinkan kamu bertemu dengan Ayah Saridin. Tapi tolong sampaikan pesanku padanya. Bahwa apapun yang telah dilakukannya, maka dia harus bertanggungjawab kepada panglima. Dia harus sadar bahwa setiap keputusannya memiliki efek,” kata Bang Yan.
“Siap Bang Yan. Siap menjalankan,” ujarku. Komunikasi melalui handphone kemudian terputus.
“Bagaimana? Aku siap mengantarmu jika kau sudah siap,” kata Alfian. Sementara aku terdiam.
“Aku pikir dulu. Nanti aku akan menghubungimu lagi. Sekarang kita ngopi dulu,” ujarku. Alfian tersenyum. Alfian sendiri minta izin sekitar 30 menit kemudian.
Usai Alfian pergi, aku tak langsung pulang ke hotel. Aku menunggu Sidom Apui di tempat yang sama. Berdasarkan kesepakatan semalam, dia baru tiba sekitar 30 menit lagi.
Sidom Apui kini bekerja di salah satu pabrik di Malaysia. Sosok itu sengaja mengambil cuti kerja untuk bertemu denganku. Ia benar-benar menepati janjinya.
“Kau kurusan sekarang, Pakwa,” ujarnya begitu tiba. Sementara aku cuma tertawa.
Aku kemudian menceritakan banyak hal dengan Sidom Apui. Termasuk soal rencana aku bertemu dengan Ayah Saridin. Namun sosok itu hanya terdiam mendengarkan semua penuturanku.
“Kenapa tak pindah saja ke rumahku, Pakwa. Rumahnya memang kecil, tapi aku yakin, Pakwa bisa bentah disana,” katanya.
“Aku sangat berterimakasih atas tawaranmu. Aku akan berembuk dengan istriku terlebih dahulu,” ujarku.
Sidom Apui kemudian juga menceritakan berbagai persoalan yang sedang terjadi dengan komunitas Aceh di Malaysia. Menurutnya, ada satu peristiwa yang membuat komunitas Aceh terpecah dalam dua kubu di Malaysia.
“Aku tahu. Kau pun sebenarnya mengetahui persoalan ini,” ujarnya penuh rahasia.
Apa yang dikatakan oleh Sidom Apui memang benar adanya. Ada salah satu persoalan yang membuat komunitas Aceh terbagi dua kubu. Perseteruan ini dimotori oleh tindakan pemerintah republik Indonesia yang mengirim beberapa tokoh Aceh ke Malaysia guna mengajak petinggi GAM untuk pulang ke Aceh dan menyerah.
Tujuannya dari kegiatan ini agar perjanjian Helsinki yang sedang digagas dapat gagal dengan alasan GAM tak lagi memiliki pengaruh.
Tim dari republic ini dipimpin oleh Tarmizi, pejabat republik di Pase. Tarmizi membawa uang ratusan juta untuk tahap awal. Uang ini diimingkan bagi Ulee GAM di Malaysia yang bisa menyakinkan seluruh pendatang untuk pulang ke Aceh dan menyerah.
Tarmizi juga membawa uang miliaran untuk tahap dua. Uang ini diberikan bagi siapa saja yang menyerah dan menyerahkan senjata. Hal ini pula yang membuat Bang Yan marah. [Bersambung]
Cerita bersambung ini karya Musa AM








Discussion about this post