RATUSAN bom telah dilontarkan sejak pagi tadi. Aku sempat berpikir bahwa serangan akan berhenti jelang Magrib. Namun dugaanku ternyata salah.
"Bombardir terus. Biar mereka salat Magrib di akhirat saja," teriak seorang pria berbadan besar dari Tentara Republik. Aku menduga bahwa dia adalah perwira TNI.
Jarak diriku dengan mereka hanya sekitar 50 meter. Antara kami dengan para anggota TNI memang hanya dipisahkan dengan rawa.
Hal ini pula yang menyebabkan kami dengan mudah mendengar pembicaraan tentara itu.
"Siap komandan," ujar prajurit TNI lagi. Tak lama, ledakan ledakan bom kembali terdengar.
Suara azan mulai terdengar dari kejauhan. Suara azan berselingan dengan ledakan bom yang membombardir Paya Cot Trieng.
"Aku geram dengan tingkah TNI itu. Izinkan aku menyeberang dan memotong leher pria besar tadi," ujar Apa Malok lagi.
"Jangan. Kalau menembak, maka sama artinya dengan bunuh diri. Kita harus menyebar dan membagi jarak. Jangan sampai kita ketahuan," ujar Puly lagi.
"Iya betul yang Puly bilang. Kita harus memisahkan diri, namun tetap di pinggir rawa ini. Mungkin masing masing berjarak 10 meter. Tetap waspada jika seandainya TNI menyeberang rawa," ujarku lagi.
Puly dan anggota pasukannya kemudian mulai merayap menjadi lokasi persembunyian lain. Mereka bergerak pelan sehingga ilalang tak bergoyang dan ketahuan TNI.
Sementara TNI terus membombardir Paya Cot Trieng. Mereka melontarkan bom dengan cara yang sekitar 1 kilometer di belakang kami.
Mungkin TNI berpikir bahwa kami mulai menjauh dari lokasi ledakan tadi dan menjauh dari arah mereka. Makanya bom semakin lama semakin jauh dari lokasi persembunyian kami.
TNI belum sadar bahwa kami justru merapat ke arah mereka. Dalam taktik gerilya, tempat yang paling aman adalah tempat yang paling dekat dengan musuh.
"Dum, dum, dum..dum." Suara itu terdengar dari kejauhan.
Ledakan bom di Paya Cot Trieng membuat suasana seolah siang.
Aku seperti menonton film perang Vietnam. Namun kali ini berlangsung di dunia nyata. Aku benar benar merasakan begitu dekat dengan kematian.
Di depan ada ribuan tentara yang siap menembak mati jika seandainya persembunyian kami terbongkar. Sementara di belakang, TNI kian membabi-buta membombardir dengan bom.
Aku mencoba tetap siaga. Karena sedikit ceroboh maka nyawa menjadi taruhan. Hatiku terus terusan menyebut Asma Allah Swt. Aku tak ingin mati dalam keadaan berdosa.
Hingga dini hari, TNI masih tetap membombardir Paya Cot Trieng. Tiap detik membuat detakan jantung terpacu dengan cepat.
Dari Dzuhur tadi, aku cuma melaksanakan salat dalam posisi tiarap. Mungkin demikian juga dengan Puly dan anggota pasukan lainnya.
"Ya Tuhan, kalau memang di tempat ini nyawaku berakhir, aku ikhlas. Tapi kalau memang aku masih berguna bagi bangsa ini, tolong selamatkan aku," gumamku dalam hati.
"Tolong selamatkan kami semua. Kalau memang perjuangan kami sesuai dengan perintahmu, tolong bantu kami agar selamat dari ujian ini," gumamku lagi.
Beberapa menit kemudian aku tertidur. Namun suara ledakan masing terdengar. Aku baru terbangun saat Subuh tiba. Aku cuma terbaring lemas dalam ilalang setinggi pria dewasa itu.
Maklum, hampir seharian kemarin, kami tak makan sedikit pun. Rasa lapar mulai menyerangkanku.
Di antara setengah sadar, aku tiba tiba mendengar air rawa mulai beriak. Aku mengamati suasana rawa dengan seksama. Di sana, pasukan TNI bersenjata lengkap ternyata mulai menyeberang rawa.
Mereka bergerak lamban. Mungkin berharap agar Tentara Nanggroe tak mengetahui gerak mereka.
Mengetahui hal ini, jantungku berdetak cepat. Naluri tempurku mulai meninggi. Sekilas, aku ingin menembak tentara republik yang sedang menyeberang tersebut. Namun jika ini terjadi, maka mereka akan dengan mudah mengetahui lokasi kami. [Bersambung]
Cerita bersambung ini karya Musa AM









Discussion about this post