“NGOOOOOOKKK,” suara itu tiba-tiba terdengar.
“Ngoookk,” suara serupa kembali terdengar dari arah yang berlawanan.
Perasaan panik ku tiba-tiba hilang. Aku menyalakan mancis (korek api) dan bangun mendekati suara itu. Dari arah depan, aku melihat kawanan kerbau berlarian mengelilingi kami. Mereka sepertinya panik karena kedatangan kami tiba-tiba.
Aku menyarung kembali senjata FN. Dari arah belakang, Tipe menyusul sambil menenteng Ak-47. Ia tertawa terkekeh-kekeh.
“Untung tak sampai kita tembak,” ujarnya.
“Kalian bisa keluar. Aman. Hanya kerbau ternyata,” katanya lagi memanggil Billy dan anggotanya. Mereka pun keluar dari lokasi persembunyian.
Kami melanjutkan perjalanan ke Lhok Weng, Nisam. Sepanjang jalan, Billy lebih banyak diam. Ia sepertinya masih shock dengan insiden tadi. Sekitar 15 menit perjalanan atau pukul 23.15 WIB, kami tiba di sebuah rumah tua.
Di sana, beberapa pria bersenjata menyambut kedatangan kami. Seorang pria bertubuh tinggi dan besar, menyapaku. Ia bernama M. Jakfar, Panglima Sagoe Babah Krueng. Sosok ini biasa disapa dengan sebutan Maaphan.
“Apa kabar, Pakwa. Masuklah, kalian istirahat di sini, malam ini. Aku sudah diberitahu oleh panglima daerah tentang maksud dan tujuan kedatangan kalian,” ujarnya.
Pang Sagoe kemudian mengarahkan kami dalam rumah tua. Di sana tak ada tempat tidur. Lantai hanya beralas semen. Di sudut ruangan, ada tikar panjang dan beberapa bantal tanpa sarung.
“Kalian tidurlah di dalam. Kami berjaga-jaga di luar,” kata Pang Jakfar. Ia dan pasukannya meninggalkan kami. Tipe dan anggotanya meminta izin beberapa menit kemudian. Ia bergabung dengan pasukan Sagoe Babah Krueng untuk berjaga-jaga di luar.
Billy merebah diri di atas tikar. Ia terlihat masih tegang. Wajahnya pucat.
“Kau baik-baik saja Billy?” tanyaku sebelum ikut rebahan di sisi kanannya. Sosok itu hanya mengangguk.
“Sebelum tidur, coba telpon Bambang Darmono lagi. Bilang mereka harus tiba di Simpang KKA, pukul 09.00 WIB. Mereka baru bisa masuk dari Simpang KKA tepat pukul 09.00 WIB,” kataku.
Billy kemudian mengambil telpon dan menghubungi Bambang Darmono. Ia kemudian berbicara beberapa menit dan menutup telpon.
“Dia bilang oke, Pakwa. Mereka sudah ada di kawasan Lhokseumawe,” ujar Billy kepadaku. Aku mengangguk.
“Kalau begitu, kamu tidurlah sekarang. Besok dan seterusnya, kamu akan aman berada dalam perlindungan Kedubes Amerika,” kataku. Billy hanya tersenyum mendengar perkataanku.
Aku mencoba menutup mata. Suara rongrongan anjing terdengar di sekitar tempat kami tidur. Makin lama, suara itu terdengar makin banyak dan kuat.
Rasa kantuk yang menyerang membuatku enggan bangkit. Aku memejamkan mata dan kemudian tertidur.
+++
PUKUL 02.17 WIB, Selasa dini hari, aku terbangun akibat rongrongan anjing yang semakin menjadi-jadi. Di samping, Billy terlihat sedang membaca buku sambil duduk. Punggungnya bersandar pada tembok. Pria jangkung itu ternyata tak bisa tidur.
“Apakah kau juga terbangun, Billy?” tanyaku.
Pria itu terkejut mendengar suaraku. Namun hanya sebentar. Ia menutup buku dan mendekatiku.
“Aku belum tertidur, Musa. Suara rongrongan anjing itu membuatku khawatir. Jangan-jangan kita sedang dikepung TNI,” ujarnya. Aku tersenyum mendengar penjelasan dari Billy.
“Tidurlah. Tak perlu khawatir. Bukankah Bambang Darmono sudah berjanji tak ada perang selama proses penjemputanmu?” kataku.
Billy tak menjawab. Ia kemudian meneruskan membaca. Aku kembali memejamkan mata dan tertidur.
Aku kembali terbangun pukul 05.15 WIB. Saat itu, aku melihat Billy masih membaca. “Pria itu, ternyata benar-benar tak bisa tidur,” gumamku dalam hati.
Aku keluar ruangan. Di luar aku melihat beberapa pasukan masih berjaga-jaga di sekitar lokasi. Ada juga yang berdiri di dekat sumur untuk mengambil air wudhu. Aku mendekati mereka dan berwudhu.
Usai salat Subuh, Billy mendekatiku. “Apa bisa kita bergerak sekarang, Musa?” tanyanya. Aku tersenyum.
“Belum Billy, kami perlu sedikit mendandani agar mirip warga local,” kataku. Billy tersenyum mendengar penjelasanku. Lingkaran hitam dekat mata Billy terlihat semakin besar.
Billy saat itu mengenakan kemeja lengan panjang kotak-kotak hijau muda, rompi coklat, celana panjang abu-abu. Tangan kanannya memegang topi warna putih.
Aku kemudian mengenakan sarung kotak-kotak merah hijau padanya. Sarung itu bekas kain tidurku semalam. Kain itu aku selempangkan. Ia juga kuminta mengenakan tudung tani.
“Sudah mirip petani?” ujar Billy tersenyum.
“Mirip sekali tidak. Tak mungkin ada Bule bertani di Aceh. Tapi sekedar mengecoh bisa. Topi itu simpanlah,” kataku lagi.
Pang Sagoe Jakfar menemui kami sekitar pukul 05.45 WIB. Ia tersenyum melihat penampilan Billy.
“Aku akan meminta dua pasukan menemanimu, Billy. Pakwa tetap bersamaku di sini,” ujar Pang Jakfar.
Mendengar hal ini, Billy terlihat sedikit cemberut. Pandangannya beralih ke arahku.
“Tidak apa-apa, Billy. Aku akan memantaumu sepanjang perjalanan. Nanti sampai di sana, telponlah Bambang Darmono dan bilang bahwa orang yang menyetop konvoi mereka adalah kamu dan mereka harus berhenti,” pintaku. Billy mengangguk dengan muka sedih.
Sebelum berangkat, Billy diminta sarapan terlebih dahulu oleh Maaphan. Kami menikmati nasi putih plus telur mata sapi. Namun perasaan cemas di wajah Billy tak juga menghilang. [Bersambung]
Cerita bersambung ini karya Musa AM









Discussion about this post