Sulaiman Badai: Warisan Belanda Menjadi Salah Satu Ancaman Nasionalisme di Indonesia

MEDIAACEH.CO, Banda Aceh – Salah seorang tokoh masyarakat Aceh, T Sulaiman Badai memandang bahwa potensi disintegrasi nasionalisme di Indonesia akan selalu ada, karena Indonesia sangat beragam.

Hal ini ia utarakan dalam diskusi publik wawasan kebangsaan yang diadakan oleh Analisa Demokrasi Institute (ADI) di Banda Aceh, Sabtu 24 Agustus 2019.

“Potensi disintegrasi di Indonesia akan selalu ada. Namun wajar, karena sangat beragam,” sebutnya.

Maka itu, wawasan kebangsaan dipandang berperan penting untuk memupuk rasa nasionalisme dalam berbangsa dan bernegara. Salah satu problem mendasar terjadinya disintegrasi nasionalisme, karena Indonesia masih terus mengadopsi apa yang tinggalkan Belanda.

“Masalahnya, aturan yang berjalan di Indonesia, hukum, ekonomi, dan seterusnya itu banyak peninggalan Belanda,” jelas Sulaiman Badai yang juga politisi PDI-P itu.

Baca Juga  KNPI Aceh: Pemicu Utama Konflik di Indonesia Adalah Ketidakadilan

Lebih lanjut ia menguraikan, peninggalan kolonialisme masih mempengaruhi bangsa Indonesia. Baik dalm bentuk aturan, sistem berpikir yang kemudian teraplikasi dalam perbuatan sehari-hari. Salah satu yang disebutkannya adalah Devide Et Impera (politik pecah-belah).

Karena itu, ia berharap kepada segenap lapisan masyarakat untuk peduli dan memupuk kembali rasa nasionalisme. Mengenai masih ada kekurangan dan kelemahan, menjadi PR bersama untuk disempurnakan. Bahkan, dicontohkan Sulaiman, Amerika Serikat butuh waktu 200 tahun menyelesaikan UU peninggalan penjajah.

“Kita harus berkontribusi, tidak boleh apatis. Tidak mudah mempertahankan Indonesia ini,” pesan Sulaiman.

Diskusi publik wawasan kebangsaan tersebut mengangkat tema; ‘Memperkokoh Rasa Nasionalisme dan Semangat Kebangsaan Menuju Pembangunan Indonesia Maju’. Dengan tiga pemateri, Saifullah Abdul Gani (Juru bicara Pemerintah Aceh), Wahyu Saputra (KNPI Aceh), dan T Sulaiman Badai (Tokoh masyarakat).[]

Baca Juga  433 Gempa Terjadi di Aceh Sepanjang 2019