Plt Gubernur Minta Thaliban Aceh Sosialisasikan Syari’at Islam ke Mancanegara

MEDIAACEH.CO, Banda Aceh – Plt Gubernur Aceh, Nova Iriansyah, mengajak Rabithah Thaliban Aceh (RTA) untuk mensosialisasikan syari’at Islam ke berbagai mancanegara. Hal ini menurut Nova adalah untuk memberikan pemahaman kepada masyarakat dunia akan berbagai keberhasilan dari proses penegakan Syari’at Islam di Aceh yang sudah berlaku sejauh ini.

Pernyataan ini disampaikan Nova saat membuka acara Muktamar ke 5 Rabithah Thaliban Aceh (RTA) di Hotel Mekkah, Banda Aceh yang berlangsung pada Senin malam, 08 April 2019.

“Saya minta kepada Dinas Pendidikan Dayah dan Dinas Syari’at Islam agar bekerja sama dengan Rabithah Thaliban Aceh untuk membuat formulasi sosialisasi dan pencerahan tentang Syari’at Islam ke berbagai mancanegara dalam berbagai teknik komunikasi. Saya berani katakan bahwa kalau kita dapat melakukan sosialiasi tentang syari’at Islam secara baik, misalnya tentang hukum cambuk, maka pasti orang luar bisa memahami dengan lurus dan positif, “ tutuR Nova.

Nova menceritakan, di beberapa tempat di luar sana ia merasa bangga dengan hukum cambuk yang berlaku di Aceh. Ketika orang di luar sana memahami tentang hukum cambuk dengan sosialisasi dan pencerahan yang kita berikan, mereka justru memberi apresiasi.

“Ketika saya berbicara dengan Gubernur Adlit wilayah South Australia, ternyata dia salah paham dengan hukum cambuk di Aceh. Dia kira hukum cambuk ini berdarah-darah. Tapi setelah saya jelaskan, saya jelaskan juga bagaimana non muslim lebih memilih dihukum dengan hukum cambuk. Akhirnya dia dan mengapresiasi paham dan dan meminta kita untuk membuat formulasi untuk sosialisasi Syari’at Islam ke Mancanegara, “ ujar Nova.

Baca Juga  Mempromosikan Kuliner Andalan Bireuen Lewat Festival Sate Matang

Dalam sambutannya, Nova juga memberi apresiasi kepada RTA yang hingga kini masih menjadi tumpuan masyarakat. Kiprah RTA menurut Nova hingga hari ini masih diukur. RTA adalah generasi muda potensial untuk masa depan Aceh. Maka ketika diminta membuka acara muktamar RTA, dirinya langsung menyatakan kesediannya.

Nova juga mengatakan, hari ini masih ada generasi muda yang alergi dengan Syari’at Islam. masih ada yang memisahkan antara modernisasi dengan syari’ah. Masih ada pihak-pihak yang menganggap Syari’at Islam terbelakang. Kita harus menjadikan Syari’at Islam itu sebagai kebanggaan anak-anak muda. Jangan pernah malu atau alergi dengan Syari’ah.

Selain itu, dalam pidato panjangnya, Nova juga mengajak RTA untuk membuat formulasi pencegahan Narkoba bilateral antara Malaysia dan Aceh dengan pendekatan teori pakar alamtologi Malaysia, Dr. Zamri Masa Bayu yang hadir pada pembukaan Muktamar RTA serta bertindak sebagai pembicara. Menurut Nova, melawan Narkoba sama seperti melawan hoax.

“Saya menantang RTA untuk membuat formulasi yang konkrit dalam melakukan pencegahan Narkoba secara bilateral. Pemerintah Aceh akan membantu secara logistik. Apa yang dibutuhkan. Kalau kita tidak bisa melakukan pencegahan bilateral antar negara, minimal antar provinsi di Malaysia, “ ujar Nova.

Baca Juga  Hukum Mati LGBT, Brunei Pelajari Syariat Islam di Aceh

Selain ratusan santri dan Pengurus Cabang RTA se Aceh, hadir dalam pembukaan Muktamar ke 5 RTA ini sejumlah tokoh dan pejabat Aceh, seperti Wali Nanggroe Aceh Tgk Malek Mahmud AL Haytar, Wakil Bupati Aceh Besar Waled Husaini, Ketua Partai Daerah Aceh (PDA), anggota DPR RI dari PKS M. Nasir Djamil, S.Ag, M.Si, Kepala Dinas Dayah Aceh Usamah Elmadny, S.Ag, M.Si, wakil Ketua MPU Aceh Tgk. Hasbi Albayuni, unsur dari Polda, Baba Baihaqi Panton Labu, Tgk Anwar Kuta Krueng, dan sebagainya.

Sementara itu, Rais ‘Am RTA Tgk Imran Abubakar dalam sambutannya mengajak para santri untuk terus mengawal Syari’at Islam di Aceh. Tgk Imran menceritakan kiprah dan perjuangan RTA di masa konflik hingga saat ini. Ia juga meminta semua pihak agar tidak memandang para santri Aceh dengan sebelah mata.

Agenda Muktamar ke 5 RTA sendiri diawali dengan seminar internasional yang menghadirkan pemateri dari Aceh, Jakarta dan Malaysia. Acara seminar berlangsung setelah pembukaan muktamar dan berlanjut hingga pagi selasa hingga siang. Setelah itu dilanjutkan pembahasan tata tertib muktamar, AD ART dan pemilihan Rais ‘Am yang baru.[]