15 Nov 2018

Menjelang Pemilu 2019, Kepolisian Waspadai Maraknya Isu Sensitif

politik   mediaaceh.co   09 November 2018 - 21:30 WIB

MEDIAACEH.CO, Jakarta - Kepolisian Republik Indonesia terus mewaspadai munculnya isu-isu sensitif menjelang Pemilu 2019. Kepala Kepolisian RI Jenderal Tito Karnavian mengatakan telah meminta jajarannya cermat dan mampu mencegah terjadinya konflik di masyarakat. 

“Saya berharap kondusivitas ini dapat terus dijaga hingga akhir tahun dan menjelang masa pemilu,” katanya, Kamis, 8 November 2018.

Tito menyebutkan, munculnya sejumlah deklarasi dukungan terhadap calon presiden dan wakil presiden menjadi perhatian lembaganya. Termasuk apabila ada fenomena-fenomena sosial lain yang memicu konflik.

Lebih dari satu bulan masa kampanye pemilu, sejumlah peristiwa yang memicu konflik muncul. Seperti pada 21 Oktober lalu, saat terjadi insiden pembakaran bendera hitam yang dianggap merupakan bendera organisasi terlarang di Garut, Jawa Barat. Pembakaran yang dilakukan oleh Barisan Ansor Serbaguna Nahdlatul Ulama itu memicu polemik lantaran pada bendera tersebut terdapat kalimat tauhid.

Percikan konflik juga muncul ketika kampanye yang dilakukan oleh calon presiden nomor urut 02, Prabowo Subianto, di Boyolali, Jawa Tengah, pada 30 Oktober lalu. Ketika itu, Prabowo menyampaikan istilah “tampang Boyolali” di hadapan peserta kampanye. Bupati Boyolali, Seno Samodro, menilai pernyataan itu menyinggung perasaan warga Boyolali. Sikap protes Seno, bahwa pernyataan Prabowo diduga mengandung ujaran kebencian, membuat Prabowo dilaporkan ke Badan Pengawas Pemilu.

Juru bicara Kementerian Agama, Matsuki, telah meminta masyarakat mengakhiri perdebatan negatif selama masa pemilu, baik di ruang publik maupun dunia maya. Kasus pembakaran bendera tauhid, misalnya, dia menilai itu tak akan selesai apabila disikapi dengan unjuk rasa. “Kita harus percaya dan mendukung aparat hukum yang tengah menangani kasus tersebut secara serius,” tuturnya.

Menurut Matsuki, Kementerian Agama sering mengadakan rapat koordinasi mengundang perwakilan setiap kelompok keagamaan untuk memahami pandangan masing-masing. 

“Kami mengharapkan ada sikap saling mengerti dan sinergi,” ujarnya.[] Sumber: Tempo.co

TERKAIT