15 Nov 2018
Rizal Ramli

Rizal Ramli Sebut Utang Bank Dunia Bukan untuk Bencana

ekonomi   mediaaceh.co   20 October 2018 - 20:00 WIB

MEDIAACEH.CO, Jakarta - Pengamat ekonomi Rizal Ramli mengkritik rencana pemerintah menarik pinjaman US$1 miliar dari World Bank guna pemulihan Lombok dan Palu usai dilanda gempa. 

Sebelumnya, World Bank menawarkan pinjaman sebesar US$1 miliar atau sekitar Rp15 triliun kepada Pemerintah Indonesia untuk pemulihan dan rekonstruksi Lombok dan Palu setelah gempa bumi dan tsunami.

Tawaran ini disampaikan oleh CEO World Bank Kristalina Georgieva pada Pertemuan Tahunan IMF-World Bank di Nusa Dua, Bali, Minggu 14 Oktober 2018.

Mantan menteri di Kabinet Kerja itu juga menuturkan pinjaman Bank Dunia tak masuk akal karena digunakan untuk bencana.

"Mana ada harus pinjam kalau kita celaka. Kok ini pinjam buat kecelakaan yang luar biasa ini, buat saya tidak masuk akal," kata Rizal dalam Talk Show Menuju Indonesia Baru, di Gedung Smesco, Sabtu 20 Oktober 2018.

Menurutnya, sebaiknya pemerintah menerima bantuan dari negara-negara maju untuk rekonstruksi Lombok dan Palu, dibandingkan dengan kembali berhutang. Dia meyakini banyak pemimpin negara maju yang bersedia membantu Indonesia.

"Trump sudah menyiapkan simpati. Teleponin dong Presiden Xi Jinping, Presiden Putin, teleponin Abe, kebangun kembali itu rekonstruksi," kata Rizal.

Xi Jinping adalah Presiden China, sedangkan Vladimir Putin adalah pemimpin Rusia. Sementara pemimpin lainnya yang disebut Rizal adalah Shinzo Abe, Perdana Menteri Jepang.

Dia mengatakan posisi utang Indonesia saat ini sudah mengkhawatirkan.

Berdasarkan data Bank Indonesia (BI) dan Kementerian Keuangan, utang Pemerintahan Jokowi selama empat tahun melesat 69,75 persen. Pada kuartal III 2018 total utang mencapai Rp4.416,37 triliun dari kuartal III 2014 ) sebesar Rp2.601,71 triliun.

Kendati posisi utang terus naik, Menteri Keuangan Sri Mulyani mengklaim posisi utang masih aman karena rasionya 30 persen terhadap Produk Domestik Bruro (PDB). Bila mengacu pada UU Keuangan Negara Nomor 17 Tahun 2003, persentase rasio utang negara terhadap PDB wajib di bawah batas maksimal sebesar 60 persen.

"Setiap hari utang pokok bertambah Rp1,47 triliun. Tapi masih banyak yang ngeyel kalau utang kita rendah, karena di bawah 30 persen dari PDB," kata Rizal. 

Berdasarkan kajian awal, Bank Dunia memperkirakan kerugian fisik atas bencana gempa dan tsunami di Sulawesi Tengah mencapai US$531 juta atau sekitar Rp8 triliun. 

Potensi kerugian tersebut berasal dari kerusakan sektor perumahan tinggal berkisar US$181 juta atau Rp2,75 triliun, sektor nonperumahan sekitar US$185 juta atau Rp2,82 triliiun, dan sektor infrastruktur sekitar US$165 miliar atau Rp2,5 triliun.

CNN Indonesia

TERKAIT