12 Dec 2018

Islam dan Budaya yang Melekat di Filipina

budaya   mediaaceh.co   12 October 2018 - 22:00 WIB

MEDIAACEH.CO, Banda Aceh - Kehadiran Islam di Filipina, tak bisa dilepaskan begitu saja dari konteks penyebaran risalah Muhammad SAW ini di kawasan Asia Tenggara. Sejarah mencatat, Islam masuk di wilayah ini secara masif pada abad ke-13 M, menurut sejumlah catatan sejarah. 

Di Filipina, Islam lalu menyebar menjadi kekuatan politik dengan terbentuknya kesultanan-kesultanan Islam. Syarif Abu Bakar, adalah sultan pertama Kesultanan Islam Sulu dan Syarif Kabungsuwan di Mindanao yang dijadikan pemimpin komunitas di kawasan tersebut. 

Dalam masyarakat Moro masa kini, sultan masih memiliki pengaruh dan gengsi sosial yang besar. Selama berabad-abad lamanya, Islam telah mendarahdaging bagi masyarakat Muslim Filipina.

Bukti kuat terikatnya Islam dan masyarakat Filipina itu adalah asimilasi Islam dan budaya setempat. Di antaranya dalam pernikahan, khitan, makanan, cara berpakaian, dan lainnya. 

Dalam tradisi pernikahan, Muslim Filipina melangsungkan pernikahan seperti masyarakat pada umumnya di Filipina. Pernikahan menjadi penyatuan dua keluarga dan menjadi satu kesatuan sehingga masih terikat dengan strata sosial. Pria Moro misalnya harus memilih wanita yang berasal dari status sama dengan keluarganya. 

Seringkali pernikahan yang diatur terutama karena prestise dan keinginan orang tua agar anak-anak mereka menikmati kehidupan sosial dan ekonomi yang lebih baik.

Hadiah pengantin untuk keluarga wanita adalah bagian penting dari sebuah pernikahan. Ini dimaksudkan untuk memberi kompensasi kepada keluarga mempelai atas hilangnya anggota keluarga mereka dan mengganti biaya perawatan dan pendidikan sebelum mempelai wanita menikah.

Sedangkan pada tradisi khitan, asimilasi itu juga tampak kental. Umat Islam di Filipina biasanya menyelenggarakan upacara adat bagi pria yang beranjak dewasa. Upacara ini disebut sebagai pag Islam. Khitan dilakukan sesuai dengan aturan Islam. Biasanya khitan dilakukan oleh imam atau tokoh agama di wilayahnya dengan diiringi doa dan shalawat. 

Namun kini, proses khitan dapat dilakukan dengan alat medis modern. Sehingga memudahkan keluarga untuk mengkhitan anak mereka oleh dokter di rumah sakit. Sedangkan doa bersama dapat dilakukan di rumah masing-masing. 

Setelah anak laki-laki di khitan, berarti mereka sudah dianggap dewasa dan sudah memikul tanggung jawab di keluarga dan komunitas Islam di lingkungannya. Tak hanya pag Islam. Di Filipina juga mengenal upacara pag tammat. 

Pag Tammat merupakan upacara yang dilakukan sebagai tanda anak laki-laki yang telah mengkhatamkan Alquran. Namun upacara ini lambat laun menghilang dari kebiasaan Muslim Filipina. Ini karena banyak orang tua yang mengirim anak-anaknya belajar agama di madrasah. 

Asimilasi Islam dan budaya lokal juga tergambar jelas dalam tata busana masyarakat Muslim Filipina. Pakaian tradisional yang paling menonjol adalah kain tenun yang besar dan berwarna-warni yang melilit tubuh.

Salah satu cara umum wanita memakainya adalah sekitar pinggang dengan lipatannya menutupi lengan kiri. Pria membungkusnya di pinggang seperti rok. 

Malong memiliki banyak kegunaan tergantung pada kebutuhan pemakainya. Dapat digunakan sebagai tanjung, mantel, selimut atau payung. Wanita Maranao atau Maguindanao mengenakan malong di atas blus yang disebut arbita.

Mereka juga memakai sorban yang disebut kombong yang terbuat dari kain muslin. Sorban putih digunakan sebagai kombong ketika pemakainya telah pergi berhaji atau umrah.

Di Sulu, Muslimnya mengenakan patadyong yang merupakan jenis malong. Busana ini lebih kecil dan menyerupai sarung yang dikenakan  di Indonesia dan Malaysia. Sawal atau kantyu adalah celana longgar yang terbuat dari kain lembut dan dipakai pria dan wanita. 

Pria mengenakan sawal dengan kaos polo, sementara wanita memakainya dengan sambra, blus leher V tanpa kerah dengan lengan pendek. Wanita juga memakainya dengan sablay, blus lengan panjang yang mencapai pinggul.

Wanita Tausug juga mengenakan biyatawi yang merupakan blus dengan korset ketat yang melebar di pinggang. Memiliki garis leher yang dalam biasanya berjalan dengan liontin. Biyatawi yang bergaya memiliki kancing emas di lengan, leher, dan bukaan depan.

Penutup kepala tradisional bagi pria Maguindanao dan Maranao disebut sebagai tobao. Sedangkan di Tausug disebut ppis. Penutup kepala ini merupakan kain dengan desain geometris atau bunga atau kaligrafi Arab.

Tutup kepala umum lainnya disebut kopiya, yang mirip dengan songkok yang digunakan di Indonesia dan Malaysia. Pria yang pergi ke Makkah memakai topi putih yang disebut kadi.[] Sumber: Republika.co.id

TERKAIT