12 Dec 2018
Miftahul Jannah terlihat sedih usai didiskualifikasi oleh wasit. ANTARA FOTO/BOLA.COM/M Iqbal Ichsan.

Jilbab Miftahul Jannah dan Asian Para Games 2018

profil   Syamsurizal   09 October 2018 - 10:25 WIB

KEPUTUSAN Miftahul Jannah, atlet olahraga Blind Judo kelas 52 kg klasifikasi low vission Asian Para Games 2018 asal Provinsi Aceh, Indonesia, yang tetap mempertahankan jilbabnya walau harus didiskualifikasi di Asian Para Games 2018 telah membuka mata umat islam di seluruh dunia tidak terkecuali Indonesia dan Aceh, serta Abdya khususnya.

Senin malam, 8 Oktober 2018 pasca informasi wasit mendiskualifikasi Miftahul Jannah ketika hendak menghadapi judoka asal Mongolia, Oyun Gantulga di JIEXPO Kemayoran, pukul 10.18 WIB di nomor -52 kg kategori low vision lantaran menolak melepas jilbabnya saat masuk matras membuat masyarakat terharu dan mengapresiasi keputusan itu. 

Berbagai dukungan atas keputusan Miftahul Jannah ini terus di suarakan. Di Media Sosial sosoknya menjadi perbincangan hangat. Bahkan, seorang pengusaha air minum dalam kemasan di Kabupaten Aceh Barat Daya (Abdya) memberikan hadiah Umrah gratis untuknya pasca keputusan itu.

Meski namanya menjadi perbincangan hangat, banyak warga di Aceh dan Abdya belum begitu tau tentang biodata sosok ini. Miftahul Jannah, akrab disapa Mifta merupakan sosok perempuan yang dilahirkan di Kabupaten Aceh Besar. Lahir di Aceh Besar, Namun Mifta lebih banyak menghabiskan waktu di Kabupaten Aceh Barat Daya (Abdya) lantaran sang ayah yang berprofesi sebagai guru di SDLB Kecamatan Susoh.

Selesai bersekolah di SDLB Susoh, Ia kembali ke Aceh Besar untuk melanjutkan pendidikan di tingkat selanjutnya. Miftha di Aceh Besar bersekolah di SMPLB Aneuk Meutuah di kota Jantho hingga selesai. SLBN_A (SMA) Kota Bandung Jawa Barat menjadi jenjang pendidikan tingkat SMA sederajat yang telah diselesaikannya.

Mediaaceh.co, merangkum biodata Miftahul Jannah ini lewat percakapan via Whatshapp beberapa hari lalu. Banyak hal yang diutarakannya termasuk dirinya sudah menjadi tunanetra sejak masih berumur 3 tahun. Namun, kegigihan dan ketekunannya menjadi pemompa semangat untuk memperjuangkan apa yang dicita-citakan, dan kekurangan fisik bukan alasan untuk menyerah.

Miftahul Jannah dengan kekurangan yang dimilikinya, telah mempersembahkan berbagai prestasi untuk membuat sang ayah-ibu, seluruh familinya tersenyum, bangga padanya, tak terkecuali daerah yang dicintainya. Betapa tidak, sosok yang baru berumur 21 tahun ini diusianya yang masih muda telah membukukan segudang prestasi di event-event bergengsi.

13 juara di berbagai cabang oleh raga telah diukirnya dengan tinta emas dibuku kenangan yang akan dibawa seumur hidupnya. Tahun 2010 lalu menjadi pengakuan awalnya tentang rincian 13 juara yang pernah di raih. Juara satu Cabor Catur O2SN Se-Abdya tingkat Dikdas SD umum menjadi pembuka.

Kemudian, juara dua Cabor Catur O2SN PKLK ABK Dikdas Provinsi Aceh tahun 2010, juara satu Cabor Catur OS2N PKLK ABK Dikdas Provinsi Aceh tahun 2011, juara lima Cabor Catur O2SN PKLK ABK Nasional tahun 2011, juara satu Cabor Catur O2SN PKLK ABK Dikdas Provinsi Aceh tahun 2012, juara enam ajang O2SN PKLK ABK nasional Cabor Catur.

Masih tentang prestasinya, di Bapernas, Miftah yang juga mantan ketua osis di SMPLB Aneuk Meutuah dan juga mantan skretariat sekaligus bendahara di OSIS SLBN_A (SD,SMP,SMA) kota Bandung ini, meraih juara satu lari 100M, juara 3 lari 200m, juara 1 lompat jauh tahun 2012, juara satu O2SN PKLK ABK nasional tahun 2013, juara 1 di Peparda Aceh cabang lari 100, 200m dan lompat jauh tahun 2014. 

Prestasi lainnya, di Peparda Jabar meraih juara 1 judo, juara 1 catur Blind Ches, juara 2 catur klasik, juara 1 catur cepat, juara 3 catur Regudan, juara 1 catur Spit Blind Chess tahun 2015.

Sementara di, PON/Peparnas Jabar, Ia meraih juara 1 Cabor Judo Blind Nasional. Di ajang APG (Asean Paralimpik Game) Malaysia Cabor Goolbol meraih peringkat 8 lari 400m, juara 1 Cabor Catur serta juara 3 Blind kilat tahun 2017.

"Apa yang saya raih itu, salah satu bukti bahwa setiap ada kemauan pasti ada jalan, yang penting kita mau dulu, yakin dan bersungguh-sungguh. Tetap jangan lupa berdoa," ulasnya.

Salah satu hal yang membanggakan lainnya, sosok ini pernah menjadi asistem wasit Walkot tahun 2017. Ia juga peraih juara 1 OSN PKLK ABK cerdas cermat PPKN Nasional tahun 2014, juara 2 OSN PKLK ABK MIPA Aceh tahun 2010, juara 1 OSN PKLK ABK cerdas cermat MTK tahun 2011, OSN PKLK ABK cerdas cermat nasional 2013, OSN PKLK ABK cerdas cermat PPKN nasional tahun 2014, juara 2 TIK mengaplikasikan Jaws pada leptop tingkat nasional tahun 2016, juara 1 TIK mengolah sistem informatika ilmiah dan membuat cipta baca tulis nasional 2017.

"Ditambah dukungan keluarga, sahabat dan orang-orang tersayang menjadi power penambah semangat untuk saya terus berjuang," tutur gadis yang menjadi salah satu pelajar pertukaran Acces Inggris-Amerika-Indonesia tahun 2015.

Pengalaman hidup sosok ini juga tak kalah menarik, sosok ini ternyata pernah mengikuti pelatihan PKH program kecakapan hidup . LPIP (lembaga pendidikan indonesia prancis) 2015, pembuatan aplikasi game aksesibel penyandang netra di Singapur dan Malaysia tahun 2016 serta Platnas Asean tahun 2017.

"Hanya ini yang mungkin saya dapat paparkan satu per-satu, selebihnya hanya allah lah yang tau," imbuhnya.

Dia berharap, Aceh tidak mendiskriminasikan anak-anak penyandang disabilitas karena mereka bukanlah anak tiri ibu pertiwi Aceh, melainkan anak Aceh yang mampu mengukir prestasi di Persada Aceh.

"Dan harapan yang kepengen banget terwujud adalah, tolong akui saya sebagai atlit Aceh dan berikan kesempatan saya untuk membuktikan bahwa saya mampu untuk bersaing di kalangan umum walau saya memiliki keterbatasan pada panca indra penglihatan saya, dan saya juga kepengen di akui di NPCI Propinsi Aceh," harapnya.

Miftah, mengaku apa yang diulasnya tetang apa yang sudah dialaminya sepanjang hidupnya kini bukanlah untuk bersombong diri, akan tetapi hanya ingin memotivasi pemuda-pemudi dan atlit Abdya yang akan mengikuti PORA.

"Bahwa dengan keyakinan dan kegigihan, apa yang kita cita-citakan akan terwujud. Apa yang telah saya dapatkan dengan perjuangan saya ini, semoga bisa bermamfaat untuk saya pribadi dan rakyat Abdya semua," ujarnya.

Pasca kejadian itu, Wakil ketua 1 KONI Abdya, Alamsyah yang mendampingi atlet ini mengikuti Asian Para Games 2018 di Jakarta, mengaku pasca kejadian itu Menpora memanggil Miftha. 

"Mifta dipanggil Menpora hari ini," singkat Alamsyah, Selasa 9 Oktober 2018.[]

TERKAIT