24 Apr 2018

Peran Ulama di Aceh Menurut Dr Amiruddin Yahya Azzawiy

budaya   Fathorrahman   16 April 2018 - 22:00 WIB

MEDIAACEH.CO, Langsa - Ketua Umum Yayasan Dayah bustanul Ulum Dr. Amiruddin Yahya Azzawiy MA mengatakan Dayah dan madrasah (meunasah) di Aceh berperan penting dalam islamisasi dan menjadi pusat pengembangan ilmu keislaman dan ilmu umum.

Demikian kata Amiruddin Yahya dalam sambutannya pada acara Haflah Takhrij (wisuda) santri Madrasah Ulumul Quran (MUQ) Yayasan dayah Bustanul Ulum Langsa, 15 april 2018.

Dikatakannya, dayah banyak melahirkan ulama bahkan banyak diantaranya menjadi penjabat kerajaan saat itu. Dayah pertama di Aceh berbentuk perguruan tinggi adalah dayah cot kala (zawiyah cot kala). Dalam dialek aceh zawiyah disebut dayah,  sama seperti madrasah disebut meunasah.

"Semua pejabat kerajaan di Aceh,  seperti kerajaan Perlak,  Pasai dan Kerajaan Aceh,  mereka semua adalah alumni dayah sekaligus madrasah (meunasah). Sebab, di Aceh waktu itu tidak ada lain lembaga pendidikan kecuali Dayah dan meunasah.  Jadi lembaga ini menjadi pusat peradaban Aceh," katanya.

Dia menjelaskan, Teungku Muhammad Amin, salah seorang sultan pereulak adalah pendiri Dayah Cot Kala bahkan dia sebagai teungku chik (abu chik)  cot kala. Selanjutnya, Malik as salih, yakni sultan kerajaan Pasai belajar di dayah, meurah Johan sultan kerajaan Aceh yang pertama juga alumni dayah termasuk sultan Iskandar muda juga alumni dayah.

"Waktu itu, sultan sultan di kerajaan Aceh, mereka sebagai pimpinan sekaligus ulama. Mereka mendapatkan ilmunya di dayah. Kala itu,  dayah terintegrasi ilmunya, tidak ada pemisahan antara ilmu agama dan ilmu umum.  Di dayah, kurikulumnya dari berbagai ilmu pengetahuan. Aceh tidak mungkin maju jika tidak ada dayah, karena lembaga ini yang ada di Aceh saat itu selain meunasah dan rangkang," sebut Amiruddin Yahya.

Belakangan, setelah Aceh di kuasai Belanda,  maka dayah di obrak abrik termasuk ulamanya. Dan Belanda tidak mengizinkan di dayah diajarkan ilmu umum,  apalagi ilmu politik dan tata Negara. Setelah itu, dayah hanya fokus pada ilmu agama islam saja. Itupun dibawah pengawasan Belanda.

Dayah melahirkan banyak ulama, oleh karena ulama menjadi pilar bangsa.  Ulama berfungsi sebagai pendidik sekaligus pemimpin dan penyaring budaya. Karena itu, ulama harus didengarkan dan dilibatkan dalam semua pengambilan keputusan di Aceh, apalagi berkaitan dengan pelaksaan syariat islam. Ulama lebih tahu tentang Islam dan bagaimana cara melaksanakannya.

"Untuk itu, saya mengucapkan selamat kepada alumni MUQ sebagai alumni dayah sekaligus madrasah. Teruslah berkarya dan tingkatkan pengetahuan. Sebab, bangsa ini butuh orang - orang cerdas, berkarakter baik sebagai penerus estafet bangsa," kata dia.[]

TERKAIT