11 Dec 2018
Gua Ceruk Mendale adalah sebuah situs prasejarah yang berada di Desa Mendale, Kecamatan Kebayakan, Kabupaten Aceh Tengah, Provinsi Aceh. (Foto: Istimewa/kebudayaan.kemdikbud.go.id)

Gua Prasejarah Peninggalan Nenek Moyang Orang Gayo Terbengkalai

sejarah   mediaaceh.co   13 March 2018 - 14:00 WIB

MEDIAACEH.CO, Takengon - Situs cagar budaya Loyang Mendale di Desa Mendale, Kecamatan Kebayakan, Kabupaten Aceh Tengah, Provinsi Aceh, lokasi penemuan kerangka manusia prasejarah yang menghuni kawasan tersebut sejak 9.000 tahun lampau, kini terbengkalai dan tak terawat.

Pantauan wartawan di lokasi, Senin, 13 Maret 2018, replika kerangka manusia prasejarah yang dibuat oleh tim peneliti dari Balai Arkeologi (Balar) Medan, Sumatera Utara, sebagai bahan edukasi di situs tersebut rusak dan hancur berkeping-keping.

Kepala Bidang (Kabid) Kebudayaan Dinas Pendidikan Kabupaten Aceh Tengah, Iskandar, selaku pihak yang membidangi pelestarian situs cagar budaya tersebut mengatakan pihaknya sampai saat ini belum bisa mencampuri penanganan situs tersebut karena masih ditangani oleh Balar Medan.

"Jadi belum bisa kita masuk sembarangan, karena belum diserahkan ke kita," ucap Iskandar.

Menurutnya, perawatan situs cagar budaya Loyang Mendale juga seharusnya dilakukan setelah penelitian di lokasi situs tersebut selesai.

Hasil penelitian yang didapati kerangka manusia prasejarah juga belum dikembalikan. "Waktu saya tanyakan ke Pak Ketut (ketua tim peneliti) beberapa waktu lalu, saya sudah minta dikembalikan," ujarnya.

Padahal, Dinas Pendidikan Kabupaten Aceh Tengah telah meminta Balar Medan mengembalikan kerangka manusia prasejarah tersebut usai penelitian. "Inikan sejarah nenek moyang kami. Maksud saya kalau sudah dikembalikan kerangka prasejarahnya, baru kita bisa lakukan perawatan situs itu," kata Iskandar.

Situs ini telah diteliti oleh Balar Medan, Sumatera Utara, sejak tahun 2007 dan ekskavasi pertama dilakukan pada 2009.

Tim arkeolog dipimpin Ketut Wiradnyana awalnya menggelar survei di wilayah di Aceh Tengah. Survei diadakan di sejumlah titik yang dianggap memiliki potensi peninggalan prasejarah.

Selain di kawasan Loyang Mendale, penelitian juga berlangsung di wilayah Ujung Karang, Kecamatan Kebayakan, Aceh Tengah.

Ketut Wiradnyana menjelaskan, temuan kerangka prasejarah di Loyang Mendale dan Ujung Karang merupakan ras Austro Melanesoid yang berada pada budaya Austronesia. Ras tersebut masih memiliki hubungan dengan ras Mongoloid yang datang dari China.

Wiradnyana bahkan menyimpulkan bahwa penelitian yang dilakukan pihaknya terhadap kerangka prasejarah di Loyang Mendale dan Ujung Karang, ternyata membuahkan teori yang berbeda dengan teori migrasi Austronesia yang selama ini diyakini para arkeolog.

Sebelumnya, menurut Wiradnyana, banyak di antara arkeolog yang meyakini teori bahwa migrasi Austronesia atau ras Mongoloid dimulai dari China, Taiwan, Filipina, Sulawesi, dan menyebar ke mana-mana.

"Sedangkan dari data yang saya temukan ini berbeda. Bahwa ras Mongoloid bermigrasi dari China bagian selatan, Thailand, dan langsung ke Gayo," katanya.

Sebab yang dijadikan masa ideal migrasi Austronesia ke Indonesia adalah 3600 tahun yang lalu. "Tapi di sini kita punya hampir 5000. Jadi tidak mungkin dari Sulawesi kemari, karena lebih tua di sini," tuturnya.

Temuannya itu, lanjut Wiradnyana, juga bisa saja mereposisi keberadaan ilmu arkeologi yang selama ini ada. Setidaknya tentang teori migrasi Austronesia.

"Kita temui juga di sini ada migrasi budaya Hoabinh. Saya melihat ini adalah lompatan besar bagi ilmu pengetahuan, khususnya di bidang arkeologi dalam merekonstruksi sejarah budaya," ujarnya.

Tahun 2010, pihaknya juga pernah melakukan perbandingan DNA kerangka prasejarah yang ditemukan di kedua situs tersebut dengan DNA (asam deoksiribonukleat) masyarakat Gayo setelah mengumpulkan 300 lebih sampel DNA orang Gayo.

Sedangkan uji DNA digelar di laboratorium Universitas Erlangga Surabaya. Hasilnya, menurut Wiradnyana, DNA yang diuji banding positif sama. Kerangka yang ditemukan terbukti sebagai nenek moyangnya orang Gayo.

Bahkan, pihaknya juga sudah membandingkan langsung DNA kerangka-kerangka tersebut dengan DNA dua orang pemilik lahan situs Loyang Mendale dan Ujung Karang, tempat kerangka ditemukan. Hasilnya juga positif sama.[] Sumber: Liputan6.com

TERKAIT