11 Dec 2018

Dokter Muda di Banda Aceh Terserang Difteri

health   mediaaceh.co   13 March 2018 - 13:00 WIB

MEDIAACEH.CO, Banda Aceh – Seorang dokter muda di Aceh berinsial F terpaksa dirawat di Rumah Sakit Umum Daerah Zainoel Abidin (RSUDZA) Kota Banda Aceh.

Wakil Direktur Pelayanan RSUDZA, dr. Azharuddin mengatakan, dokter muda itu bukanlah pegawai dari rumah sakit tersebut. Pasien itu merupakan dokter muda yang hendak mengikuti program intensif setelah lulus dari kampus.

"Seorang dokter, bukan pegawai kita. Jadi dia baru saja menjadi dokter yang lagi menunggu intensif. Jadi, setiap dokter yang baru lulus dari fakultas kedokteran yang harus berangkat ke daerah selama satu setengah tahun," kata Azharuddin.

Awal mula pasien terjangkiti difteri, kata Azaharuddin, ketika sedang menunggu jadwal keberangkatan program intensif. Selama satu pekan menunggu jadwal, dokter itu mengalami demam. Setelah diperiksa gelaja yang dialami itu pun sesuai dengan gejala-gelaja virus difteri.

"Setelah diperiksa memang dia mengalami gejala difteri sehingga kita mengambil selaput putihnya untuk dikirim ke laboratorium," jelas Azharuddin.

Pasien tersebut sudah diberikan ADS antibiotik selama delapan hari mendapat perawatan di Rumah Sakit Zainoel Abidin. Selanjutnya, ia akan diberikan antibiotik lagi dua hari kemudian.

"Jadi dua hari lagi kita berikan antibiotik. Kita selalu ada parameter untuk mengukur kondisi perkembangan pasien, hasilnya ecg-nya sudah normal. Kita akan memulangkannya pada hari ke sepuluh," ujarnya.

Selama ini, Azharuddin menyebutkan, dokter yang terkena difteri tersebut baru lulus dari Fakultas Kedokteran sehingga belum pernah bekerja di fasilitas kesehatan. Kendati demikian, pihak rumah sakit mencari sumber yang menyebabkan penularan difteri terhadap dokter muda itu.

"Dia belum bekerja. Dokter baru lulus dia belum bekerja fasilitas kesehatan. kalau membantu kayak bekerja di klinik supaya ilmunya tidak lupa itu ada. Jadi kita ada tanyakan, kita selalu mencari kemungkinan pasien itu tertular dari mana yang kita curigai," pungkasnya.

Selama 2018, pihak rumah sakit sudah menangani sebanyak 58 pasien difteri di Aceh. Namun, kata Azharuddin, tidak semua pasien harus dirawat di rumah sakit. Pasien itu rata-rata setelah mendapatkan penanganan, lalu diizinkan pulang ke rumah. Kini sekira tiga pasien difteri yang sedang dirawat di rumah sakit tersebut.

"Kita koordinasi dengan Dinas Kesahatan sampai minggu kedua Maret ini sudah 58 orang kita tangani, total akumulasinya. Sekarang yang dirawat di rumah sakit sebanyak tiga orang," pungkasnya.[] Sumber: Okezone.com

TERKAIT