23 Oct 2018

Seribu Mangrove Ditanam di Alue Naga

news   mediaaceh.co   14 January 2018 - 20:21 WIB

MEDIAACEH.CO, Banda Aceh - Sebanyak seribu batang mangrove (bakau) ditanam di Alue Naga, Banda Aceh. Penanaman ini melibatkan sekitar 360 orang yang terdiri dari berbagai kalangan seperti kepolisian, TNI, sejumlah komunitas, anak-anak, pegawai pemerintahan, dan akademisi.

Kegiatan penanaman tersebut dilaksanakan atas kerja sama Jefri Nichol Fans (JNF) dengan Balai Pengelolaan Daerah Aliran Air Sungai dan Hutan Lindung (BPDASHL) Krueng Aceh, Minggu (14/1).

Acara didukung pula oleh Museum Tsunami Aceh, Pemerintah Aceh, Koalisi Lestari Hutanku, UIN Ar-Raniry, dan Universitas Syiah Kuala.

Kepala BPDASHL Ahmad Sofyan mengatakan, aksi penanam mangrove merupakan bentuk implementasi program penanaman 10 ribu mangrove di Indonesia. Banda Aceh terpilih sebagai salah satu lokasi penanamannya. “Kegiatan ini tidak berhenti aja di sini, kami akan terus melakukan penanaman, seperti kegiatan sebelumnya yang dibantu komunitas Museum Tsunami Aceh,” ujarnya.

Ia menyatakan, pada 2018 akan dilakukan penanaman mangrove hingga 14 ribu batang. Angka 14 disesuaikan dengan peringatan tsunami yang ke-14 nantinya. BPDASHL memiliki satu juta bibit tanaman yang terdiri dari mangrove, tanaman hutan dan produktif. Masyarakat dipersilakan memintanya tanpa perlu membayar.

Rektor UIN Ar-Raniry Prof Farid Wajdi Ibrahim turut hadir menanam mangrove. Ia sangat mendukung kegiatan tersebut karena sangat bermanfaat bagi kelestarian alam. “Kami dari perguruan tinggi sangat bangga ada kegiatan-kegiatan seperti ini,” lanjutnya.

Ia menyerukan kepada masyarakat untuk menanam minimal 25 pohon seumur hidup.

Hal senada disampaikan oleh Koordinator Museum Tsunami Aceh Almuniza Kamal. Kegiatan penanaman mangrove sekaligus media pembelajaran masyarakat betapa pentingnya menanam pohon. Bagi anak-anak, mereka sudah bisa belajar mencintai alam sejak dini. Ia mengharapkan masyarakat lebih mencintai alam dengan tidak menebang pohon secara ilegal. Apalagi di kawasan pegunungan yang akan berdampak terjadinya banjir bandang dan longsor yang biasa terjadi di musim hujan.

“Musibah-musibah yang terjadi seperti longsor dan banjir bandang adalah ulah manusia yang menebang pohon,” ujarnya.

Mangrove terhadap ekonomi rakyat

Keuchik Alue Naga Zulkifli Ismail sangat berterima kasih kegiatan penanaman mangrove dilaksanakan di kawasannya. Kehadiran mangrove di sungai kawasan Alue Naga sangat berarti bagi para pencari tiram maupun kepiting. Namun, akibat bencana tsunami, banyak mangrove di daerah itu menghilang. Mangrove merupakan rumah bagi ikan serta kepiting.

“Akibat tidak banyak lagi mangrove, masyarakat di sini sudah sulit mencari kepiting untuk dijual mencari rezeki,” ujarnya.

Ia menuturkan, kondisi sungai di Alue Naga semakin dangkal dan sempit. Harapannya, melalui penanaman mangrove, masalah tersebut dapat dicegah. Penyempitan sungai sama dengan penyempitan rumah bagi tiram. Orang yang paling merasakan dampak negatifnya adalah para penjual tiram. Tiram merupakan salah satu sumber pendapatan ekonomi di kawasan pesisir itu.

Sampai sekarang, masyarakat mulai mengembangkan bisnis tiram dengan cara mengolahnya menjadi kerupuk. Tujuannya untuk meningkatkan nila jual. Hasil olahan mereka sudah dipasarkan ke beberapa kabupaten di Aceh.[]

TERKAIT