[Opini] Anak Rantau Pulang Kampung

Hitungan hari saja lagi kita akan berjumpa kembali dengan hari kemenangan umat Islam seluruh dunia. Seperti biasanya banyak dari kita yang sudah bersiap-siap untuk mudik ke kampung halaman seperti tahun-tahun sebelumnya. Setiap Idul Fitri tiba, selalu tak sabar ingin berkumpul bersama keluarga tercinta. Mereka jauh disana. Tentunya tidak hanya saat Idul Fitri saja aku kembali pulang ke kampung halamanku. Banyak alasan lain yang selalu membawaku pulang, meski terkadang hanya ingin mencicipi masakan ibuku atau memperhatikan senda gurau adikku. Namun entah sejak kapan tradisi tahunan ini mulai menjangkitiku, seperti teman-teman seperantauanku yang sebagian bekerja dan juga menuntut ilmu seperti diriku. Sedapatnya kami pulang ke rumah menyambut hari nan Fitri. Melepas rindu bersama keluarga dan sanak famili. Pun beberapa dari kami tidak lagi memiliki orang tua, berziarah di hari raya sudah menjadi keharusan yang tidak tertulis dalam peraturan manapun.

“Jak barangkahoe jeut, makmeugang woe.” Ini kalimat singkat yang disematkan orang tua saat anaknya hendak  merantau. Begitu pula halnya dengan saya. Setidaknya ini bentuk ancaman sekaligus ultimatum dari orang tua yang mewajibkan anaknya kembali sebelum lebaran. Adapun “makmeugang” atau meugang merupakan tradisi turun temurun rakyat Aceh, dalam menyambut bulan Ramadhan, hari raya Idul Fitri dan hari raya Idul Adha. Makmeugang itu sendiri di rayakan di masing-masing rumah, membeli daging segar dan memasaknya dengan aneka resep yang mengundang selera dan ada pula tradisi membagi daging meugang kepada orang yang kurang mampu dari kaum dermawan di desa masing-masing. Yang biasanya makmeugang ini di rayakan sehari atau dua hari sebelum puasa di bulan Ramadhan dimulai, dan sehari atau dua hari sebelum lebaran Idul Fitri atau Idul Adha dirayakan.

Baca Juga  [OPINI] Apakah Kita Akan Menuju Orde Baru Versi Modern?  

Membayangkan minyak kuah kari daging meugang, aroma daging goreng, belum lagi jika ibu membuat ketupat sayur untuk Lebaran. Dan banyak lagi hidangan lain yang telah disiapkan Ibu sebelum meugang tiba. Rasanya mustahil kita tidak pulang ke kampung halaman saat meugang.

Namun terlepas dari itu semua, diri ini membatin. Seharusnya kita bisa pulang seminggu sekali. Atau sebulan sekali. Atau dua bulan sekali. Kenapa harus saat meugang saja. Sungguh negeri rantau sangat berbeda, dunia yang kelihatannya gemerlap dan penuh aroma kebebasan terkadang membuat kita lupa. Lupa pada doa Ibu ditengah malam sunyi, lupa akan peluh ayah dibawah terik matahari. Kita lupa betapa suara Ibu yang kita rindukan terkadang menjadi sebuah gangguan ketika beliau menghubungi dari rumah yang jaraknya ratusan kilometer. Kita lupa menanyakan kabar Ayah yang uangnya kita butuhkan setiap bulan, belum lagi setiap semester.

Terkadang rindu ini terhalang akomodasi dan mobilisasi bagi kita yang masih menuntut ilmu, tak pelak juga bagi karyawan yang sudah  bekerja. Tidak seta merta bisa berleha-leha menghabiskan akhir pekan dengan pulang ke kampung halaman. Banyak pekerjaan yang  menumpuk, banyak kebutuhan yang mengantri. Memang terkadang kita lupa, serig lupa pada mereka. Pada orang tua kita yang menggantungkan harapan dan cita-citanya pada kita anaka mereka. Yang harus rela mengorbankan rindu dah khawatirnya demi kesuksesan anak mereka. Sehatkah anakku, tidur dimana anakku, makan apa anakku, bagaimana pendidikan anakku, bagaimana karir anakku.

Baca Juga  Tiba di Banda Aceh, Kapal Pencuri Ikan Asal Malaysia Kandas di Lampulo

Seperti biasanya, ketika kita mengabari orang tua di kampung bahwa kita akan segera pulang. Mereka akan sibuk dengan berbagai kegiatan. Adik-kakak membersihkan rumah, Ibu  memasak makanan yang enak-enak. Ayah pun tak mau kalah membeli kebutuhan rumah tangga dengan hati senang.

Inilah adanya, kita hidup dirantau dengan doa dan keringat dari Ayah dan Ibu. Inilah kenyatannya, kita berhasil dan sukses di rantau berkat mereka. Pulangnya kita sebuah kebahagiaan, bukan untuk menagih hutang bukan pula menuntut janji. Mereka hanya ingin memeluk dan melihat senyum anaknya. Dan memastikan anaknya baik-baik saja. Jadi wahai anak rantau jangan sombong dengan kesuksesan yang engkau dapatkan di perantauan karena  itu semua adalah berkat doa dari kedua orangtuamu.

Penulis adalah Muhammad Noval Kabid, Komunikasi Umat Jaringan Intelektual Muda Islam (JIMI) Juga Anggota HMI FKIP Unsyiah, Banda Aceh.