[Cerbung] Sang Kombatan (179)

“Aku hamil, Mas. Sudah delapan bulan. Sejak hamil, aku ingin sekali pergi ke Aceh. Seolah-olah Aceh adalah kampung halamanku. Makanya Mas Wahyu mengantarku ke sini. Kami datang bersama relawan dari Yogya untuk membawa bantuan untuk korban Tsunami Aceh,” ujar Rani.

Aku tersenyum mendengar penuturan Rani. Aku mencoba menjadi pendengar yang baik bagi dirinya.

“Bayiku sangat lasak. Perutku sakit selama hamil. Namun selama di Aceh dia justru diam. Seolah-olah dia merasa nyaman berada di Aceh. Entah kenapa. Kata orangtua, aku ngidam. Cuma ngidamnya ke Aceh,” ujarnya sambil tersenyum.

“Mudah-mudahan anakku bisa ke Aceh suatu saat. Mudah-mudahan dia berjodoh dengan orang Aceh. Jangan seperti ibunya yang cintanya bertepuk sebelah tangan,” kata Rani pelan.

Aku sadar dengan kata-kata Rani. Dia mungkin mencoba menyindirku. Namun kata-katanya sangat halus.

“Siapa nama istri Mas? Apakah dia sudah hamil juga?” tanya Rani.

“Namanya Mutiara. Dia aktivis kemanusiaan. Kami baru menikah beberapa bulan yang lalu. Soal itu (hamil-red) aku belum tahu,” ujarku mencoba tersenyum.

“Aku yakin suamimu pasti sangat sayang terhadapmu, Rani. Hanya lelaki berhati tulus yang mau membiarkan istrinya bertemu dengan diriku,” kataku. Rani terdiam mendengar penjelasanku. Ini menandakan bahwa apa yang aku katakan benar adanya.

“Ya sama seperti istrimu, Mas. Hanya wanita yang berhati mulia yang rela membiarkan suaminya bertemu dengan perempuan yang pernah menaruh harapan lebih terhadapnya,” ujar Rani.

“Aku yakin. Inilah takdir terbaik yang diatur tuhan untuk kita berdua. Kita sama-sama menikah dengan orang yang sangat baik. Hal ini pula yang membuatku mulai jatuh cinta dengan Mas Wahyu,” kata Rani lagi.

Baca Juga  [Cerbung] Sang Kombatan (178)

“Ya, aku juga jatuh cinta pada istriku. Kebaikan dan pengorbanannya semasa konflik membuatku menjatuhi pilihan terhadapnya. Dialah wanita yang setia menemaniku saat-saat susah,” kataku.

Kami berdua kemudian terdiam. Seorang pelayan mendekati meja kami. Aku memesan kopi ginseng dan Rani memesan teh.

“Aku berharap kau akan terus bahagia seperti sekarang. Dan kita tetap bisa bersilaturahmi seperti sekarang. Anggap saja aku saudaramu yang tertua,” ujarku kemudian.

Mendengar hal ini, Rani tertawa. “Terus terang, Mas. Kalaulah yang mampu menundukan egoku selama ini. Aku belajar banyak tentang kehidupan dari Mas selama ini. Aku akan sangat bahagia memiliki abang seperti Mas,” ujar Rani.

“Ya. Aku punya suami yang sangat baik serta abang nakal tetapi berprinsip seperti Mas Musa. Abang yang rela meninggalkan cintanya untuk Aceh,” kata Rani lagi.

Aku kembali tersenyum mendengar penuturan Rani. Ia ternyata masih Rani seperti di kampus dulu. Rani yang sangat terbuka dengan perasaannya.

“Apakah Mas membawa senjata saat duduk sekarang?” ujar Rani tiba-tiba.

“Maksudmu?” kataku.

“Kalau maksudmu seperti konflik, tidak lagi. Kini GAM dan RI sudah berdamai. Sudah ada MoU di Helsinki. Kami tak lagi memegang senjata. Kami komit dengan perdamaian,” ujarku.

Mendengar hal ini, lagi-lagi Rani tertawa. Beberapa bule di meja sebelah sempat melirik ke arah kami.

Baca Juga  [Cerbung] Sang Kombatan (126)

“Aku hanya bercanda, Mas. Aku tahu dengan semua proses yang terjadi. Makanya usai perjanjian di Helsinki, aku memberanikan diri ke Aceh. Awalnya, Mas Wahyu sempat ketakutan. Namun ketika aku katakan ini permintaan bayinya. Ia hanya bisa pasrah,” ujar Rani.

“Ini permintaan sang bayi atau emaknya?” ujarku mencoba menyindir Rani sambil tersenyum.

“Terus terang ini bawaan dan permintaan bayiku. Ibunya hanya kebagian positif bertemu dengan mantan gebetan di kampus,” ujar Rani lagi sambil tertawa.

“Aku berharap saat anakku lahir nanti. Tak ada lagi kebencian di negara ini. Sehingga ia bisa menikah dengan siapapun yang diinginkannya. Jangan bernasib seperti ibunya,” kata Rani.

Aku hanya terdiam mendengarkan pengakuan Rani. Keningku sedikit berkerut. Setiap perkataannya berasal dari hati yang paling dalam.

“Tapi aku sadar Mas kalau inilah takdir. Tak semua yang kita inginkan terwujud. Tapi yang diberikan adalah yang sesuai dengan kita. Allah yang maha tahu apa yang terbaik bagi kita,” kata Rani.

“Aku berharap bisa memiliki menantu nanti orang Aceh. Jadi aku bisa sesering mungkin ke Aceh nantinya. Baru sekitar delapan hari di Aceh, daerah ini mampu memikatku dengan segala hal. Orangnya sangat baik dan ramah. Padahal baru selesai perang dan aku adalah etnis Jawa,” ujarnya lagi mencoba tersenyum. [Bersambung]

Cerita bersambung ini karya Musa AM