[Cerbung] Sang Kombatan (177)

PAGI harinya, aku dan Muti meminta izin pulang ke rumah orangtuaku pada Teungku Muhammad. Aku ingin memperkenalkan Muti pada orangtua serta saudaraku. Ini karena Muti juga belum pernah bertemu dengan ibuku sejak kami menikah.

Dengan menumpang sepeda motor milik tetangga samping rumah Muti, kami melaju ke kawasan Paloh.

Suasana sepanjang perjalanan terasa berbeda. Tak ada lagi sweping TNI serta suara tembakan dari dua arah.

Memasuki kawasan Paloh, suasana terasa sedikit hening. Belum banyak lalu-lalang kendaraan bermotor. Kawasan Paloh masih seperti semasa konflik. Namun bedanya, kini tak lagi ada pos-pos TNI yang terletak di sepanjang jalan desa.

Di depan rumah orangtuaku, ada beberapa sepeda motor yang terparkir rapi. Aku tersenyum. “Mungkin seluruh keluarga sedang berkumpul. Waktu yang tepat memperkenalkan Muti,” gumamku dalam hati.

Dari luar, beberapa pasang mata terlihat mengintip kedatangan aku dan Muti dari balik tirai. Sementara kami memarkir kendaraan berdekatan dengan sepeda motor yang sudah ada.

Hanya beberapa saat kemudian, Nyakti membuka pintu dan berlari ke arahku. Ia memelukku erat-erat. Air matanya tumpah. Aku merasakan kerinduan yang mendalam dari seorang ibu terhadap anaknya.

Adik dan kakakku ikut memelukku dan Nyakti. Mereka menangisi kepulanganku. Sementara aku mencoba untuk bersikap tegar.

“Kapan ayahmu pulang, Musa? Bukankah katanya semua tahanan politik serta narapidana politik GAM akan dibebaskan?” ujar Nyakti, ibuku sambil memeluk.

Mendengar hal ini, dadaku tiba-tiba sesak. Aku tak tahu apa yang harus aku katakan pada Nyakti. Bagiku, kecil kemungkinan ayahku masih hidup seusai dibawa oleh TNI.

Baca Juga  Pelajari Sejarah Kerajaan Samudera Pasai, IMAMI Lhokseumawe Ziarah ke Makam Sultan Malikussaleh

Namun aku tentu tak bisa mengatakan hal yang sebenarnya. Aku tak ingin menyakiti hati Nyakti. Aku juga tak ingin dirinya terus berduka.

“Isya Allah, buk. Kalau ayah masih berumur panjang, beliau akan segera pulang ke rumah. Sama seperti aku. Aceh sudah damai. Kita berharap kedepan tak ada lagi air mata seorang ibu yang jatuh di Aceh,” ujarku mencoba menenangkannya.

“Keluarga kita tak akan bercerai berai lagi buk. Saya akan bersama ibu di sini,” kataku lagi.

Nyakti mengangguk. Dia kemudian kembali memelukku dengan erat.

“Buk. Saya pulang bersama Muti. Menantu ibu. Saat konflik saya hanya meminta izin. Sekarang saya pulang dan memperkenalkan wanita pilihan saya. Dialah orangnya, buk,” ujarku sambil mengarahkan Nyakti ke Muti.

Muti mengangguk. Dia kemudian membungkuk dan mencium tangan Nyakti. Keduanya kemudian saling berpelukan dan menangis haru. Kakakku kembali memeluk mereka.

Sementara adikku, Munawir, memelukku dari samping. Kami menatap pertemuan para wanita itu dengan rasa haru.  Bagiku, sangat wajar Muti terharu melihat Nyakti. Ini karena kami menikah di Malaysia tanpa didampingi oleh keluarga.

Selama ini Muti hanya menjadi seorang istri. Namun baru kali ini ia merasakan memiliki mertua dan saudara ipar. Perasaan inilah yang membuat emosinya tak terbendung. Ia menangis.

Baca Juga  Amanah Berat di Pundak Pemimpin

“Bang. Ada tamu yang sudah seminggu terakhir mencarimu. Datang tiap hari. Tapi karena abang tak kunjung tiba, ya mereka selalu pulang tanpa hasil,” ujar Munawir tiba-tiba.

“Siapa? Apa orang GAM?” tanyaku.

“Bukan,” kata Munawir.

“TNI?”tanyaku lagi dengan penasaran.

“Bukan. Aku lupa namanya. Tapi pasangan suami istri. Mereka katanya berasal dari Yogyakarta. Kawan abang katanya,” ujar Munawir lagi.

Statemen terakhir Munawir tak begitu terdengar olehku. Ini karena aku masih terhipnotis dengan senyum mekar Nyakti yang memeluk Muti. Keduanya terlihat sangat bahagia.

“Ayo kita masuk ke rumah,” ujar Nyakti sambil memeluk Muti. Aku, Munawir serta kakakku kemudian menyusul dari belakang.

“Cantik ya, istrimu,” ujar kakakku sambil tersenyum ke arahku. Ia kembali memelukku.

Di ruang tamu, Nyakti duduk di sisi kanan Muti. Mereka seperti tak terpisahkan. Sementara aku, Munawir dan kakak duduk di depan mereka.

“Oya, Musa. Ada kawanmu dari Yogyakarta datang dari seminggu kemarin. Mereka banyak tanya soal kamu. Si wanita sangat cantik. Kayak bintang film. Dia menitip nomor telepon dan meminta kami menelpon dia begitu kamu tiba,” ujar Nyakti. Munawir mengangguk.

“Wanita itu perutnya buncit, kayaknya hamil,” sela Munawir tiba-tiba. Aku mulai menduga-duga bahwa sosok yang berkunjung tersebut adalah..

“Kalau tidak salah namanya Maharani. Ya, Maharani. Dia datang bersama suaminya,” ujar Nyakti lagi. [Bersambung]

Cerita bersambung ini karya Musa AM