16 Nov 2018
Ilustrasi. | Pixabay

[Cerbung] Sang Kombatan (71)

budaya   mediaaceh.co   01 March 2016 - 08:00 WIB


SEHARI usai meninggalnya Teungku Lah, pimpinan di Swedia langsung menunjuk Mualem Muzakir Manaf sebagai panglima GAM untuk Aceh. Mualem Muzakir Manaf memang sosok yang dipersiapkan untuk menjadi panglima di Aceh.
 
Tujuan pengangkatan ini agar Tentara Nanggroe di lapangan tak kehilangan arah serta tak melemahkan semangat juang.
 
Untuk memberitahu kepada publik, beberapa petinggi GAM di Pase, menghubungi Bang Him. Bang Him adalah wartawan media local, namun sosok itu dipercayakan oleh elit GAM untuk menyeleksi para wartawan lainnya yang bisa atau tidak untuk wawancara dengan Mualem.
 
Dalam beberapa peristiwa, aku melihat bahwa sosok Bang Him memang benar-benar menjadi kepercayaan pimpinan GAM.
 
Aku sendiri beberapa kali berjumpa dengan sosok itu, dan tak kusangka jika Bang Him memiliki peran yang sangat penting.
 
Beberapa bulan usai meninggalnya Teungku Lah, kabar duka kembali menyelimuti Tentara Nanggroe. Ahmad Kandang meninggal dalam sebuah tragedi Matang Kuli.
 
Posisi Ahmad Kandang kemudian digantikan oleh Ayah Saridin sebagai panglima operasi wilayah Pase.
 
Kabar duka ternyata belum usai, tak lama setelah meninggalnya Ahmad Kandang, Bang Leman juga meninggal dalam sebuah pertempuran di Cot Trieng.
 
Bagiku, sosok Ahmad Kandang dan Bang Leman memiliki arti yang sangat penting. Keduanya adalah guruku dalam GAM.
 
Jabatan Bang Leman sebagai Panglima Operasi D1 Pase kemudian digantikan oleh Kumbang. Namun meninggalnya dua orang ini, sedikit membuat gerak GAM mengedur.
 
Pimpinan wilayah akhirnya menggelar rapat penguatan struktur di Alue Embang. Daerah ini berasa antara Nisam dan Kuta Makmur. Rapat ini juga dihadiri oleh Mualem Muzakir Manaf.
 
Seluruh pimpinan daerah diundang, termasuk diriku. Ada beberapa agenda yang dibahas.
 
Salah satunya, seperti penguatan struktur GAM Pase. Dimana, posisi panglima wilayah tetap dipercayakan kepada Sofyan Dawood.
 
Kemudian Said Adnan ditunjuk sebagai Gubernur Pase, Cek Mad Keuangan Pase, Zulfikar Ubit sebagai bendahara, Teungku Ni sebagai kepala polisi wilayah Pase.
 
Ayah Saridin sebagai komandan operasi wilayah. Sebelumnya, posisi Ayah Saridin sebagai Ulee Tentara.
 
Kemudian Ayah Halim sebagai wakiL Panglima Pase, Ilyas Pase sebagai Biro Penerangan Wilayah.
 
Kepala Militer Polis atau POM adalah Kapla Ih dan wakilnya Nasir MBO.
 
Kepala penghubung adalah Dasuki. Fikram kepala pasukam bom wilayah. Jamal Kandang sebagai kepala logistik wilayah serta Khadi wilayah Abi Jali.
 
Posisi Khadi Wilayah sangat penting. Sosok khadi-lah yang memutuskan perkara-perkara penting sehari-hari.
 
Sebagai contoh, GAM diberikan instruksi untuk menembak atau membalas tembakan jika berhadapan dengan TNI dan Polri. Ini karena dalam pemahaman GAM saat ini adalah perang. Sedangkan bagi para mata-mata republic yang tertangkap akan disidangkan oleh Khadi Wilayah.
 
Dalam rapat tersebut, aku juga direkrut menjadi sekretaris wilayah. Sedangkan Ibrahim KBS diangkat sebagai kepala sipil untuk Aceh.
 
Kemudian Jamaika ditugaskan sebagai orang yang menginput kejadian dan insiden setiap hari. Jamaika kemudian mengirim rilis ke seluruh media di luar dan dalam negeri.
 
Sedangkan isu politik dikendalikan sendiri oleh Sofyan Dawood.
 
Eks libya lainnya menjadi tim inti yang mengontrol struktur. Eks Tripoli bisa masuk semua rapat.
 
Rapat ini juga membahas persoalan batas wilayah kerja masing-masing daerah di Pase. Mualem juga memerintahkan pembentukan Kompi di Pase. 
 
Dalam rapat tersebut juga diputuskan bahwa GAM mulai mendirikan kantor wilayah yang dipusatkan di Alue Dua, Nisam.
Dari kantor ini, kemudian lahir sejumlah surat-surat penting tentara nanggroe, seperti buku nikah, surat tanah serta lainnya. Dokumen penting untuk Aceh juga kebanyakan dikeluarkan oleh kantor wilayah Pase. Ini karena GAM belum memiliki kantor negara.
Keberadaan kantor ini juga menunjukkan bahwa GAM telah benar-benar siap menjadi sebuah negara. Secara pelan, struktur kami mulai menggantikan pemerintahan republic di Aceh.
 
Usai rapat wilayah, dalam waktu yang hampir berdekatan, Mualem Muzakir Manaf menggelar rapat negara di Alue Dua, Nisam. Aku kembali hadir dalam rapat tersebut sebagai wakil dari Pase.
 
Rapat berlangsung di SMP Alue Dua. Rapat ini dihadiri oleh 17 wilayah dalam struktur komando besar GAM. Semua elit GAM seluruh Aceh hadir di Alue Dua, Nisam.
 
Tiga kecamatan, seperti Nisam, Sawang dan Kuta Makmur disesaki oleh anggota GAM. TNI tidak berani mendekati area di kecamatan ini.
 
Ribuan tentara GAM siaga untuk menyukseskan agenda rapat tersebut. Semua petinggi GAM dapat bertatap muka di Nisam. Pasukan GAM antar wilayah pun ditempatkan pada titik penjagaan serta berkoordinasi penuh dengan wilayah Samudera Pase.
 
Hal tersebut karena letak rapat komando berada di wilayah Pase.
 
Salah satu inti rapat, yaitu agar GAM di seluruh wilayah mengikuti Pase dalam pembentukan struktur.
 
Tujuannya agar memudahkan koordinasi. Dalam rapat itu, aku melihat Kepiawaian Mualem dalam mengambil beberapa kebijakan. Sikap Mualem membuatku kagum.
 
Sosok itu benar-benar jeli dalam menyikapi masalah. Dia juga tak segan-segan mendengar nasehat dari para bawahannya saat rapat.
 
Padahal, nasehat atau saran yang disampaikan telah dibicarakan. Ada juga anggota rapat yang sekedar meminta kesempatan berbicara dan kemudian memaparkan hal-hal yang sama sekali tak ada hubungannya dengan rapat. Namun Mualem tetap memberi kesempatan dan mendengarkan apa yang disampaikan oleh orang tersebut. [Bersambung]

Cerita bersambung ini karya Musa AM

Baca Juga :

[Cerbung] Sang Kombatan (70)

TERKAIT